Ads 468x60px

Tampilkan postingan dengan label Puisi Kehidupan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Puisi Kehidupan. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 03 Januari 2015

Di Episode Subuh Nan Ceria

Sejuknya kalbu, 
penuh dengan irama tasbih, tahmid, tahlil, takbir, shalawat. 
Amarah teredam karena embun Malaikat Subuh, 
jiwa-jiwa penuh harap menunaikan sesembahan takwa 
dalam ihsan dan kekhusyu'an. 

Betapa indahnya, kumandang doa Qunut menyertai 
sebagai penolak bala' & kekufuran. 
Matahari fajar menerangi jagad raya 
sebagai bukti akan kuasa-Nya. 

Di perantauan, ku mohon "Mama, bangunlah dalam doa
untuk anakmu yg mengharap cinta sesosok wanita shalehah". 
"Kakak, bangunlah & marilah kita doakan Bapak di alam makbarah". 
"Keponakan tercintaku,
bangunkanlah tetangga sekelilingmu
supaya terbiasa mendengar tangis shalehmu".

"Calon pndamping hidupku, 
marilah kita ikhlaskan diri utk sama-sama berdoa, 
semga Subuh membangunkan hasrat keimanan kita 
sehingga tidak ada lagi keraguan menjemput semua impian & harapan".
"Murid-muridku, raihlah cita2mu lewat ilmu di waktu subuh, 
supaya tentram hdupmu". 
Dan akhirnya, kita semua janganlah ragu untuk hari bahagia ini.

24 Oktober 2011

Akankah Seperti Ini?

Merenungi hari-hariku di pagi yg penuh kepasrahan.
Mengarungi bahtera nasib dalam padunya duka lara.
Melihat indah senyum burung-burung yang tidak tahu
'beban' apa yang dirasakan oleh tatapan mata.

Ya, 'Beban kesendirian'. 
Ingin sebnarnya ku lalui dengan penuh makna, 
namun begitu ada kok berlalu begitu saja.
Selalu ku mohon jawabannya kepada Ilahi.
Namun, semakin saja jiwa dan perasaan ini membuncah
tanpa realisasi. 

Hanya kepasrahan yang membuat tenang jiwa ini. 
Mungkin, ada yg lebih baik yg akan Kau hadirkan utukku, Rabb? 
Kalau memang seperti itu, segerakanlah supaya 
ku rasakan ibadah indah dalam sembah di atas sajadah bersamanya!

Mataram, 22 Oktober 2011

Kamis, 01 Januari 2015

Kepada Siapa Hujan Itu Merindu???

Tanpa malu-malu,
Ia pun syahdu melepaskan rindu
Tanpa isyarat apapun,
Ia pun dengan leluasa membasahi sunyi

Anakku pun tiba-tiba menangis ketakutan
Terjaga, karena suara yang tanpa malu-malu itu
Mencari mamanya karena desiran sang sunyi
yang dibasahi rindu.

Cari Mama, Pak...!
Ungkapnya dengan penuh rindu
Iya Sayang, Mama lagi makan.
Cari Mama, Pak...!
Tentangnya kembali.

Kemudian ku dekap sang buah hati
Ku bawa ia menuju mamanya tercinta
yang tengah asyik menikmati santapan malamnya
yang tengah syahdu mengumpulkan makanan untuk buah hatinya.

Mamanya pun melepaskan makanan enaknya
Membawa buah hatinya kembali dalam dekapan lelapnya
Tanpa takut,
Jika sang perindu kembali turun dengan lantangnya.

Tiba-tiba terbersit dalam nestafaku,
mengenang korban "Air Asia" yang begitu memilukan.
mensketsakan rindu keluarganya yang menantikan mereka pulang
mengilustrasikan asa Bapak dan Ibunya yang menunggu buah tangan.

Namun, yang dirindukan telah menjadi jasad dan dalam pencarian.
yang menjadi asa berbuah tangan menjadi karangan bunga,
bahkan peti jenazah yang siap untuk diikhlaskan.
Tidak dapat terbayangkan bagaimana nuansanya.

Mungkin,
Kepada merekalah hujan itu menunjukkan rindunya
Kepada merekalah hujan itu melepaskan kerinduannya
dan,
Sebagai isyarat bagi kita semua dengan dinginnya,
membayangkan untuk disyukuri
Karena kita bukan diantara mereka yang menjadi korban.

Terima kasih hujan,
Engkau bagian Rahmat Yang Kuasa
untuk sama-sama direnungkan
sembari mngucapkan, "Rabbana Maa khalaqta haa dzaa baathilan"
(Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau ciptakan semua ini dengan sia-sia)
"Subhaanaka faqinaa 'adzaabannaar"
(Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka)

{Mataram, 01 Januari 2015]

Bukan Dijadikan Penyesalan, Itu Anugerah Yang Seharusnya Disyukuri

Mungkin kita terlalu memilih...
Mungkin kita terlalu egois...
atau,
kita terlalu ingin level kita yah di atas rata-rata semua orang.

Padahal yang seharusnya dijadikan tujuan kan "Ketaqwaan"
mungkin terlalu banyak hal yang menjadi pertimbangan sehingga konsep tujuan utama itu seringkali kita abaikan.
termasuk juga saya sendiri, dan ingin berusaha mengkaji diri....

Masalah Hidup
hidup enak, banyak keuntungannya... tidak banyak melepas energi mencari ketentraman.
itu bagi orang yang "taqwa" kan???
nah, bagaimana enaknya hidup orang yang tidak "taqwa"?
Tidak pernah enak sebenarnya, namun mereka sendiri yang kegombalan menganggap dirinya enak. padahal yah, di dalam diri mereka mungkin tersimpan sesuatu yang sangat mengerikan.

Masalah Cinta
banyak orang yang menganggap, cintanya orang kaya, cantik/tampan saja yang mengenakkan dan membahagiakan.
namun, pada hakikatnya semuanya kan sudah jelas,
cintanya orang yang bahagia adalah cintanya "orang-orang baik untuk yang baik juga" (al ayaah)

inilah sebenarnya yang ingin saya ungkap.
bertahun-tahun dalam penantian sebenarnya, namun ketika menyadari akan hakikat "kebaikan", bukankebaikan manusianya dari dulu namun kebaikannya saat ini. kalau memang boleh memilih, mana yang dipilih dari cinta kita, baiknya di masa dulu atau baiknya di masa sekarang sih????

ah, nggak nyambung...

hanya orang yang mengerti yang dapat mengambil ibrah dari catatan sederhana ini...
may be useful

KETIKA MUSIBAH ITU BERNAMA "PERTIKAIAN"

Anakku, masih ingatkah kalian
ketika bayimu, dalam kegalauan
ketika kecilmu, dalam keluguan
ketika dewasamu, dalam keraguan
dan... ketika kini kalian
dalam kekejian.

tersadarkah kalian
bahwa engkau adalah dasar dari kebaikan
bahwa engkau adalah tiang dari kesungguhan
bahwa engkau adalah tonggak
dari kemuliaan dan harapan

Kini, kegalauanmu, keluguanmu, dan keraguanmu itu
menjadi darah bersejarah untuk sebuah kebodohan
menjadi bakteri dosa dalam kebencian
menjadi virus untuk sebuah permusuhan

Anakku...
kalian adalah manusia termulia
kalian adalah manusia terpuji
kalian adalah manusia kaca datar
untuk cerminan bahwa mudamu
adalah inspirasi indahnya kegemilangan negeri ini.

Ya Tuhan, selamatkanlah anak-anak kami
dari pertikaian yang berujung musibah.
dari musibah yang berujung pertumpahan darah
dari ujian yang berakhir dendam kemelaratan.

Jagalah mereka
bisikkanlah qalbu mereka
untuk mengenal dirinya
dan, mengenal siapa Engkau yang sebenar-benarnya!!!

(Mataram, 13 Oktober 2012)

#3 Dengan Lantang Aku Menertawaimu

Karena bodohnya kau
Karena penyesalan kau
Karena penghinaan kau
Karena kurang ajar kau
Karena janji palsu kau
Karena materialistis kau
Karena ketulian kau
Karena kesombongan kau
Karena keluguan kau

Kini sebagai balasan Tuhan
Setelah kau nodai cinta tulusku dulu.
Kini sebagai hikmah dari Tuhan
Bahwa yang kau burukkan dariku
Ternyata kau pun akan memikulnya juga

Mataram, 23 Mei 2014

#2 Selamat Tahun Baru Hambaku

Banyak diantara mereka yang mengharamkannya
Tidak semua orang gembira menyambutnya
Sebagian kecil orang yang menghalalkannya
Hampir semua orang mengagungkan dan menanti kehadirannya

Padahal,
Fenomenanya bak sebuah pintu untuk dibuka
Ibaratnya tamu yang baru berkunjung malu ke rumah sahabatnya
Misalkan buku dengan sampul mewah, namun isinya belum diketahui baik buruknya

Memang,
Menurut sejarah haramnya didasarkan pada sebuah rekayasa
Menurut aturan menggembirakannya pun sah-sah saja
Menurut kajian halalnya pun tidak perlu difatwakan
yang terpenting, pemaknaannya untuk kebaikan kehidupan

Yang mengharamkan, kan tetap mengacu padanya
Yang menggembirakan, pastinya diguyur hujan dan subuhnya kesiangan
Yang menghalalkan, do'a dan harapan disusun begitu rapi menyongsongnya
dan, yang mengagungkan dan menantikannya,
ada rencana besar untuk segera disiapkan

Sejatinya kita saksikan
Di luar sana Perayaannya sungguh berlebihan, dan wajar untuk diharamkan
Namun, jika dipestakan dengan bakar ikan,
kemudian santap malam bersama yang dicinta itu sah-sah saja
Apalagi, Jika peringatannya diiringi muhasabah untuk perenungan
akan jauh lebih halal dan penuh keberkahan.

Yang Mengharamkan,
Yang Menghalalkan,
Yang Membolehkan
Usahlah didebatkan
Karena Orang-orang berilmu dulunya pun tidak pernah mempermasalahkan

Yang terpenting bagi kita hari ini adalah
semoga Tuhan mengucapkan "Selamat Tahun Baru Hambaku" untuk kita
dan, sumpah-Nya dengan "Waktu" kita renungkan untuk
menapaki kehidupan bersama-Nya dalam cahaya cinta dan Rahman Rahim-Nya.

Faidza faraghta fanshab
Wa ilaa Rabbika farghab!
Jika Satu urusan telah diselesaikan, Maka Selesaikanlah urusan yang lain dengan sungguh-sungguh
Dan, hanya kepada-Nyalah kita semua berharap!

(Mataram, 1 Januari 2015)

Kreasi Pilihan

 

Sample text

Semoga menjadi inspirasi untuk kita semua